Pontianak Butuh MRT !

Tak dipungkiri Pontianak semakin sumpek, semakin sempit, semakin sesak oleh beragam kendaraan. Panjang dan lebar jalan yang tak kunjung berkembang mengakibatkan tidak tersedianya jalan alternatif. Semua menumpuk di satu jalan dan macet pun tak terhindarkan.

Macet adalah malapetaka bagi semua. Setiap orang menjadi stres. Setiap investor enggan berinvestasi di kota ini. Setiap turis tidak memprioritaskan kunjungan ke kota ini. Tidak ada lagi yang dapat dibanggakan jika kota ini benar-benar macet. Semua menjadi pelik. Semua dirugikan.

Sungguh macet harus segera dituntaskan. Salah satunya dengan pengalihan penggunaan kendaraan pribadi kepada transportasi umum. Masyarakat sudah jenuh dengan ketiadaan transportasi umum yang sebenarnya menjadi hak mereka. Pajak dan retribusi yang mereka bayar perlu imbal balik yang sepadan. Bukan malah menjadi “korban“ kemacetan karena ledakan volume kendaraan yang tak seimbang dengan luas dan panjang jalan.

Mass Rapid Transit (MRT)

Mass Rapid Transit (MRT) adalah moda transportasi secara massal. Intinya sekali berjalan dapat mengangkut banyak penumpang. Moda transportasi seperti ini lebih efektif dan efisien daripada penggunaan kendaraan secara pribadi. Bahan bakar dan waktu pun menjadi lebih irit.

Yang paling realistis untuk diwujudkan di kota ini adalah transportasi darat (bus) daripada air (perahu) atau rel (kereta). Membangun bus lebih murah daripada monorel. Infrastruktur jalan sudah ada. Tinggal melebarkan, memuluskan dan merawatnya. Sebaliknya, pembangunan monorel perlu bertahap karena biaya mahal yang hanya menyedot APBD bertahun-tahun. Belum lagi lokasi yang sempit dan struktur tanah yang tidak mendukung.

buskecil2 buskecil1Mengapa bus? Pontianak memiliki struktur jalan yang lurus dengan jumlah persimpangan jalan yang relatif sedikit. Jadi meminimalisir jumlah trayek bus. Meskipun tidak menutup kemungkinan untuk pengembangan trayek baru jika kemudian hari dibutuhkan.

Faktor pendukung lain adalah tipe area tempat tinggal di Pontianak yang berbentuk blok sehingga memudahkan pemetaan jalur utama mana saja yang perlu dilewati bus.  Mari mencoba memetakan. Sepanjang jalan Adisucipto, Imam Bonjol dan Tanjungpura cukup dengan satu trayek berujung di Alun-alun Kapuas. Kemudian di shelter Alun-alun Kapuas bisa dipecah dengan trayek baru ke arah PAL 5 sampai dengan Kakap dan TPI (Jeruju).

Terminal Sudarso sampai dengan wisma Korpri dan sepanjang jalan A. Yani I dari Polda sampai dengan RS Antonius cukup dengan satu trayek. Jangkauan yang cukup jauh dengan trayek yang sangat sederhana. Begitulah seharusnya konsep transportasi dalam kota. Hemat armada, tidak ribet dan mudah menjangkau kemana saja.

Tidak perlu membangun jalur khusus bus (busway) seperti TransJakarta. Lebar jalan kota ini tidak mungkin untuk melakukan hal itu. Yang perlu dilakukan hanyalah sosialisasi tentang jalur khusus bus, memprioritaskan perjalanan bus di bahu jalan paling kiri dan tidak boleh parkir kendaraan di depan shelter bus.

Perhatian juga difokuskan bagaimana membangun shelter sebagai tempat naik-transit-turun penumpang. Mengingat lahan dan lebar jalan di kota ini sangat sempit. Padahal saat ini mobil angkutan sudah mulai meninggi (baca : truk peti kemas dan truk pengangkut alat berat). Oleh karena itu perlu dibangun shelter yang memudahkan penumpang tanpa menggangu perjalanan kendaraan yang berlalu lalang di jalan.

Pembangunan jembatan penghubung antarshelter adalah langkah terbaik. Jembatan penghubung tidak mengganggu aktivitas kendaraan. Selain juga menambah kenyamanan para penumpang untuk melanjutkan perjalanan dengan trayek lainnya.

Visi Pontianak kota khatulistiwa berwawasan lingkungan sebagai pusat perdagangan dan jasa bertaraf internasional kiranya sangat mendukung untuk segera mewujudkan MRT. Memiliki moda transportasi massal merupakan kebutuhan utama masyarakat modern yang perlu segera dipenuhi.

Jangan sampai visi yang begitu “wah” menjadi bahan cibiran para pelancong ataupun pendatang baru yang mengunjungi kota ini. Bagaimana tidak kecewa ketika pemkot bersemangat menjadikan kota ini sebagai kota jasa dan perdagangan berskala internasional tetapi tidak mampu menyediakan sistem transportasi massal yang mumpuni. Transportasi yang ada hanyalah angkutan kota yang terlihat “kumuh“ dan “tidak berdaya“. Ironis.

Dampak MRT

Proyek ini adalah impian masyarakat Pontianak yang terlalu lama mendamba transportasi menyenangkan. Terlalu lama masyarakat disuguhi jalan rusak, kebut-kebutan pemakai jalan dan seabreg pelanggaran lalu lintas.

Proyek ini juga merubah gaya hidup masyarakat. Jika dahulu lebih senang naik kendaraan pribadi, masa mendatang berubah menjadi naik bus. Siswa tidak akan lagi merepotkan orangtua untuk mengantar ke sekolah. Istri tidak akan lagi merepotkan suami untuk mengantar ke pasar. Para manula pun bisa tetap mandiri melakukan perjalanan dengan rasa aman dan nyaman.

Intinya wajah transportasi kota ini perlu penyegaran. Penulis yakin dengan penyegaran transportasi kota ini semakin energik. Mobilitas masyarakat dalam memanfaatkan transportasi umum akan meningkat. Asalkan semua harus difasilitasi dengan baik. Disediakan dengan murah, mudah, aman dan nyaman.

Tidak rugi mengembangkan proyek ini. Bagi masyarakat proyek ini adalah kemudahan yang dinanti bertahun-tahun untuk memudahkan urusan mereka. Mulai pergi ke pasar, ke sekolah, bekerja sampai kepada wisata keliling kota di hari Sabtu dan Minggu. Bagi pemkot proyek ini mengangkat citra profesional manajemen transportasi yang teratur dan elegan. Dan bagi wisatawan proyek ini memberi cermin keseriusan pemkot untuk mengemas paket transportasi dan pariwisata.

Pembangunan MRT juga menciptakan gaya hidup sehat masyarakat. Mereka membudayakan jalan kaki dari rumah ke shelter. Berjalan dari shelter ke tempat tujuan. Dan sebaliknya. Semua dilakukan hanya dengan berjalan tanpa mengeluarkan polusi. Efeknya kota menjadi lebih hijau dan asri.

Dari sisi lapangan pekerjaan proyek ini banyak menyerap tenaga kerja. Seperti saat pembangunan shelter dan jalur bus, penjaga shelter, sopir, petugas keamanan di dalam bus, penjaga karcis, tenaga kebersihan shelter.

Harus Beda

Jika pemkot konsen tentang proyek ambisius ini sebaiknya harus beda dengan yang sudah ada. Tidak perlu meniru MRT ala Jakarta, Solo atau Jogja. Implementasi boleh terlambat tetapi penampilan tetap harus beda. Hal-hal sepele jadikan lebih oke. Misalnya promosikan pakaian khas melalui seragam seluruh kru MRT mulai dari sopir, penjaga shelter, sampai kepada petugas keamanan di dalam bus.

Hiasi eksterior bus dengan iklan layanan masyarakat atau berbagai kampanye tentang layanan masyarakat. Audiovisual bus juga bisa menampilkan slideshow agenda wisata dan situs menarik di kota ini. Berdayakan petugas keamanan bus sebagai guide yang mampu menjadi pemandu yang ramah bagi penumpang.

Semua strategi ini hanyalah secuil ide untuk menarik lebih banyak penumpang sehingga terlihat beda dengan konsep MRT di kota lain. Akhirnya selain menjadi transportasi pilihan MRT juga berperan sebagai media wisata berjalan. Mari berharap semoga kita semua cepat menikmatinya. Semoga!