Polisi CAKEP Solusi Macet

macet jakartaKonotasi negatif kerap kali mengidentifikasi macet sebagai musibah waktu, biaya, tenaga. Macet mengeliminir produktivitas. Semua yang berkaitan dengan macet menimbulkan kerugian, kegelisahan, keterpurukan. Di sisi lain macet ditinjau dari aspek materi dan ekonomi justru keberkahan. Macet adalah bukti industri otomotif masih berprospek. Daya beli dan daya pakai masyarakat terhadap kendaraan bermotor cenderung naik. Macet membuktikan kuantitas kendaraan bermotor melonjak signifikan yang selaras dengan peningkatan pajak kendaraan bermotor bagi pemerintah. Sisi baik lainnya adalah macet menginisiasi antar-kirim barang tanpa harus dilakukan sendiri. Pendelegasian kurir melalui ojek online yang mewakili pengirim tetap bisa berinteraksi dengan penerimanya tanpa harus bertemu secara tatap muka.

Terlepas dari plus-minus mengenai macet, ada baiknya kita menyikapinya dengan bijaksana. Jika kita berpikir positif, macet yang menurut sebagian orang merugikan, bisa jadi membuat keuntungan. Sebaliknya jika kita selalu memahami macet dengan pandangan negatif, selamanya macet adalah alasan untuk malas berubah, malas kreatif, malas beraktivitas. Yang tanpa disadari sebenarnya banyak sekali hal-hal positif yang bisa mengubah sikap-sikap tersebut menjadi berdaya. Misalnya mengubah kebosanan dengan aktivitas intelektual melalui membaca. Membuang suntuk menjadi sibuk. Sibuk memberdayakan otak melalui imajinasi, merekam ide ataupun membuat catatan ringan mengenai konsep.

Tidak perlu menyalahkan mengapa macet tetap saja terjadi. Macet adalah dampak dari industrialisasi. Macet berbanding lurus dengan ledakan penduduk. Mobilitas penduduk semakin tak terbatas. Macet adalah kejadian sebab-akibat karena jalanan tidak lagi muat menampung beban kendaraan dan pengguna jalan.

Berbagai manajemen macet telah diimplementasikan untuk meminimalisir macet. Seperti rekayasa lalu lintas, buka-tutup arus lalu lintas, pembatasan produksi mobil dan sepeda motor, program transportasi massal menggunakan moda transportasi yang menampung banyak penumpang dengan sekali jalan. Pun demikian tak menjamin macet terselesaikan.

Macet pada dasarnya hanyalah manajemen masalah. Seperti halnya dengan kasus sumbatan pipa air. Pipa tanpa sumbatan, arus air lancar. Sebaliknya jika dalam pipa tersangkut sampah, kurangnya pemeliharaan pipa menyebabkan kerak menumpuk, sumber pipa (kran air) mengalami kerusakan mengakibatkan air tidak bisa mengalir. Sampah dan kerak di dalam pipa serta kran air yang berada di luar pipa adalah masalah sehingga perlu dikontrol dan dijaga kestabilan kebersihannya.

Lantas siapa yang yang paling bertanggung jawab masalah manajemen macet lalu lintas? Polisi. Ya, Polisi lalu lintas, polantas. Polantas masa kini adalah manajer macet. Mereka lah para pakar macet. Mereka penguasa medan, mereka pembuat kebijakan, mereka pemilik resep antimacet. Tetapi apakah hanya dengan mengandalkan resep antimacet yang telah dilakukan seperti rekayasa lalu lintas, buka-tutup arus lalu lintas, lantas macet segera terselesaikan?

Tidak. Cakap dan ahli mengatur lalu lintas tidak lah cukup. Tantangan terberat polantas adalah bagaimana memperkirakan, mengantisipasi dan meniadakan macet. Nilai plus polantas tidak tergantung pada kehadirannya ketika mengatur lalu lintas. Tolok ukur kesuksesan polantas adalah bagaimana memanage macet dengan karakter CAKEP yaitu polisi Cekatan, Aktif, Komunikatif, Empati, Profesional.

Polisi cekatan adalah tangkas dalam segala aktivitas. Tidak perlu menunggu panggilan dan laporan untuk terjun ke lapangan. Ada atau tidak ada instruksi harus memotivasi diri sendiri. Pribadi cekatan cepat menyelesaikan pekerjaan tanpa penundaan. Instruksi hanyalah sekadar formalitas, lebih dari itu tanggung jawab yang menjadikan pribadi cekatan selalu mendekati masalah untuk segera turut menyelesaikan.

Polisi aktif adalah polisi yang selalu berinovasi dalam aksi. Penerapan teknologi dalam aksi dan layanan menjadi bukti. Aktif juga tidak monoton dalam tindakan. Polisi selalu berkreasi menciptakan media-media edukasi berlalu lintas secara unik dan menarik. Polisi komunikatif merupakan polisi yang bisa menjaga keharmonisan (hubungan kerja dan sosial) terhadap atasan, rekan dan masyarakat sekitar. Berusaha menjadi teladan dalam kepribadian. Mengedepankan koordinasi dan kolaborasi daripada bertindak sendiri.

Polisi berempati adalah respek terhadap segala keadaan yang menjadikannya setiap saat ringan terjun ke jalanan. Ada atau tidak ada kemacetan kehadiran polisi di jalanan menjadi pengayom bagi para pengguna jalan. Polisi profesional adalah yang beretos kerja sistematis menurut SOP, disiplin dan jujur. Polisi profesional juga berani menolak gratifikasi, tampil sopan, senyum-sapa-salam, mengubah budaya instruksi menjadi edukasi.

Polisi CAKEP pada prinsipnya merupakan manager lalu lintas yang mampu memadukan cara-cara konvensional dan teknologi dalam mengantisipasi macet. Inovasi dalam tupoksi dibutuhkan karena macet sulit diprediksi. Macet setiap saat bisa terjadi. Manajemen macet adalah pertaruhan tupoksi profesi. Strategi dan penanganan secara elegan menjadi tugas yang harus diprioritaskan.

Pertama, Traffic-Jam Panic Button berbasis lokasi. Tombol kepanikan adalah sebuah aplikasi mobile berbasis Android yang bisa diunduh dan dipasang di smartphone oleh masyarakat secara gratis. Fungsinya sebagai media pelaporan terkini kejadian macet berbasis lokasi. Notifikasi kejadiannya terkoneksi dengan polantas terdekat, sehingga macet bisa terdeteksi secara dini.dont panic

Kedua, aplikasi pemantau lalu lintas secara streaming. Setiap polantas diwajibkan memasang aplikasi ini di smartphone masing-masing untuk bersama-sama memantau secara real time lalu lintas di area terdekatnya. Sifatnya yang real-time, menuntut polantas bertanggung jawab 24 jam terhadap kelancaran lalu lintas di daerahnya. Setiap saat mempunyai kewajiban mengecek kondisi dan melihat arus lalu lintas melalui video streaming di smartphone.

Ketiga, operasionalisasi drone (pesawat kontrol tanpa awak). Pengoperasiannya sebagai pengganti patroli konvensional menyusuri jalan. Kelebihan drone adalah bisa mengawasi lalu lintas darat dari ketinggian dengan pantauan yang lebih luas dengan jarak jangkau yang lebih akurat. Bisa saja drone dikombinasikan dengan patroli mobil sekaligus sebagai pusat pengontrol. Patroli mobil memonitor lalu lintas secara horizontal, patroli melalui drone memonitor secara vertikal. Penggunaan drone juga bisa digunakan untuk memantau pelanggaran lalu lintas oleh pengguna jalan.

Keempat, teladan pemimpin. Pimpinan harus blusukan. Pemimpin harus menjadi contoh – bukan sekadar memberi contoh – di lapangan. Kehadiran di lapangan tidak perlu penjadwalan. Kurangi kekakuan keprotokoleran. Hadirnya pemimpin merupakan pengawasan melekat kepada setiap anggotanya untuk selalu sigap dan tanggap.

Kelima, pertegas penghargaan dan hukuman. Keberhasilan mengatur kemacaten bukan usaha perorangan. Banyak pihak terkait dalam pengaturan. Sebuah kewajaran ketika polantas dinilai berhasil dan menjalankan perannya dengan rapi maka perlu apresiasi. Bentuk konkritnya bisa berupa kenaikan tunjangan atau promosi jabatan. Tetapi ketika gagal harus siap dibully dengan terus memperbaiki diri dan tetap menjaga nama baik profesi.

Akhirnya, kepopuleran dan ketenaran polisi CAKEP tidak terletak pada gaya dan penampilan. Output terpenting yang lahir dari polisi CAKEP adalah integritas. Sadar akan tugasnya yang berat maka bersatupadulah. Sadar akan kehadirannya di jalanan yang dinanti, maka bergerak cepatlah, sadar akan kemacetan yang tidak bisa diselesaikan dengan cara konvensional maka berinovasilah. Inovasi untuk solusi adalah prestasi tertinggi yang layak disematkan kepada polisi. Good bye macet, good job polisi CAKEP.

 

Advertisements

Pontianak Butuh MRT !

Tak dipungkiri Pontianak semakin sumpek, semakin sempit, semakin sesak oleh beragam kendaraan. Panjang dan lebar jalan yang tak kunjung berkembang mengakibatkan tidak tersedianya jalan alternatif. Semua menumpuk di satu jalan dan macet pun tak terhindarkan.

Macet adalah malapetaka bagi semua. Setiap orang menjadi stres. Setiap investor enggan berinvestasi di kota ini. Setiap turis tidak memprioritaskan kunjungan ke kota ini. Tidak ada lagi yang dapat dibanggakan jika kota ini benar-benar macet. Semua menjadi pelik. Semua dirugikan.

Sungguh macet harus segera dituntaskan. Salah satunya dengan pengalihan penggunaan kendaraan pribadi kepada transportasi umum. Masyarakat sudah jenuh dengan ketiadaan transportasi umum yang sebenarnya menjadi hak mereka. Pajak dan retribusi yang mereka bayar perlu imbal balik yang sepadan. Bukan malah menjadi “korban“ kemacetan karena ledakan volume kendaraan yang tak seimbang dengan luas dan panjang jalan.

Mass Rapid Transit (MRT)

Mass Rapid Transit (MRT) adalah moda transportasi secara massal. Intinya sekali berjalan dapat mengangkut banyak penumpang. Moda transportasi seperti ini lebih efektif dan efisien daripada penggunaan kendaraan secara pribadi. Bahan bakar dan waktu pun menjadi lebih irit.

Yang paling realistis untuk diwujudkan di kota ini adalah transportasi darat (bus) daripada air (perahu) atau rel (kereta). Membangun bus lebih murah daripada monorel. Infrastruktur jalan sudah ada. Tinggal melebarkan, memuluskan dan merawatnya. Sebaliknya, pembangunan monorel perlu bertahap karena biaya mahal yang hanya menyedot APBD bertahun-tahun. Belum lagi lokasi yang sempit dan struktur tanah yang tidak mendukung.

buskecil2 buskecil1Mengapa bus? Pontianak memiliki struktur jalan yang lurus dengan jumlah persimpangan jalan yang relatif sedikit. Jadi meminimalisir jumlah trayek bus. Meskipun tidak menutup kemungkinan untuk pengembangan trayek baru jika kemudian hari dibutuhkan.

Faktor pendukung lain adalah tipe area tempat tinggal di Pontianak yang berbentuk blok sehingga memudahkan pemetaan jalur utama mana saja yang perlu dilewati bus.  Mari mencoba memetakan. Sepanjang jalan Adisucipto, Imam Bonjol dan Tanjungpura cukup dengan satu trayek berujung di Alun-alun Kapuas. Kemudian di shelter Alun-alun Kapuas bisa dipecah dengan trayek baru ke arah PAL 5 sampai dengan Kakap dan TPI (Jeruju).

Terminal Sudarso sampai dengan wisma Korpri dan sepanjang jalan A. Yani I dari Polda sampai dengan RS Antonius cukup dengan satu trayek. Jangkauan yang cukup jauh dengan trayek yang sangat sederhana. Begitulah seharusnya konsep transportasi dalam kota. Hemat armada, tidak ribet dan mudah menjangkau kemana saja.

Tidak perlu membangun jalur khusus bus (busway) seperti TransJakarta. Lebar jalan kota ini tidak mungkin untuk melakukan hal itu. Yang perlu dilakukan hanyalah sosialisasi tentang jalur khusus bus, memprioritaskan perjalanan bus di bahu jalan paling kiri dan tidak boleh parkir kendaraan di depan shelter bus.

Perhatian juga difokuskan bagaimana membangun shelter sebagai tempat naik-transit-turun penumpang. Mengingat lahan dan lebar jalan di kota ini sangat sempit. Padahal saat ini mobil angkutan sudah mulai meninggi (baca : truk peti kemas dan truk pengangkut alat berat). Oleh karena itu perlu dibangun shelter yang memudahkan penumpang tanpa menggangu perjalanan kendaraan yang berlalu lalang di jalan.

Pembangunan jembatan penghubung antarshelter adalah langkah terbaik. Jembatan penghubung tidak mengganggu aktivitas kendaraan. Selain juga menambah kenyamanan para penumpang untuk melanjutkan perjalanan dengan trayek lainnya.

Visi Pontianak kota khatulistiwa berwawasan lingkungan sebagai pusat perdagangan dan jasa bertaraf internasional kiranya sangat mendukung untuk segera mewujudkan MRT. Memiliki moda transportasi massal merupakan kebutuhan utama masyarakat modern yang perlu segera dipenuhi.

Jangan sampai visi yang begitu “wah” menjadi bahan cibiran para pelancong ataupun pendatang baru yang mengunjungi kota ini. Bagaimana tidak kecewa ketika pemkot bersemangat menjadikan kota ini sebagai kota jasa dan perdagangan berskala internasional tetapi tidak mampu menyediakan sistem transportasi massal yang mumpuni. Transportasi yang ada hanyalah angkutan kota yang terlihat “kumuh“ dan “tidak berdaya“. Ironis.

Dampak MRT

Proyek ini adalah impian masyarakat Pontianak yang terlalu lama mendamba transportasi menyenangkan. Terlalu lama masyarakat disuguhi jalan rusak, kebut-kebutan pemakai jalan dan seabreg pelanggaran lalu lintas.

Proyek ini juga merubah gaya hidup masyarakat. Jika dahulu lebih senang naik kendaraan pribadi, masa mendatang berubah menjadi naik bus. Siswa tidak akan lagi merepotkan orangtua untuk mengantar ke sekolah. Istri tidak akan lagi merepotkan suami untuk mengantar ke pasar. Para manula pun bisa tetap mandiri melakukan perjalanan dengan rasa aman dan nyaman.

Intinya wajah transportasi kota ini perlu penyegaran. Penulis yakin dengan penyegaran transportasi kota ini semakin energik. Mobilitas masyarakat dalam memanfaatkan transportasi umum akan meningkat. Asalkan semua harus difasilitasi dengan baik. Disediakan dengan murah, mudah, aman dan nyaman.

Tidak rugi mengembangkan proyek ini. Bagi masyarakat proyek ini adalah kemudahan yang dinanti bertahun-tahun untuk memudahkan urusan mereka. Mulai pergi ke pasar, ke sekolah, bekerja sampai kepada wisata keliling kota di hari Sabtu dan Minggu. Bagi pemkot proyek ini mengangkat citra profesional manajemen transportasi yang teratur dan elegan. Dan bagi wisatawan proyek ini memberi cermin keseriusan pemkot untuk mengemas paket transportasi dan pariwisata.

Pembangunan MRT juga menciptakan gaya hidup sehat masyarakat. Mereka membudayakan jalan kaki dari rumah ke shelter. Berjalan dari shelter ke tempat tujuan. Dan sebaliknya. Semua dilakukan hanya dengan berjalan tanpa mengeluarkan polusi. Efeknya kota menjadi lebih hijau dan asri.

Dari sisi lapangan pekerjaan proyek ini banyak menyerap tenaga kerja. Seperti saat pembangunan shelter dan jalur bus, penjaga shelter, sopir, petugas keamanan di dalam bus, penjaga karcis, tenaga kebersihan shelter.

Harus Beda

Jika pemkot konsen tentang proyek ambisius ini sebaiknya harus beda dengan yang sudah ada. Tidak perlu meniru MRT ala Jakarta, Solo atau Jogja. Implementasi boleh terlambat tetapi penampilan tetap harus beda. Hal-hal sepele jadikan lebih oke. Misalnya promosikan pakaian khas melalui seragam seluruh kru MRT mulai dari sopir, penjaga shelter, sampai kepada petugas keamanan di dalam bus.

Hiasi eksterior bus dengan iklan layanan masyarakat atau berbagai kampanye tentang layanan masyarakat. Audiovisual bus juga bisa menampilkan slideshow agenda wisata dan situs menarik di kota ini. Berdayakan petugas keamanan bus sebagai guide yang mampu menjadi pemandu yang ramah bagi penumpang.

Semua strategi ini hanyalah secuil ide untuk menarik lebih banyak penumpang sehingga terlihat beda dengan konsep MRT di kota lain. Akhirnya selain menjadi transportasi pilihan MRT juga berperan sebagai media wisata berjalan. Mari berharap semoga kita semua cepat menikmatinya. Semoga!