Metamorfosis JekPot Ojek Pontianak

JekPoter mania, Alhamdulillahirobbilalamin sejak berdirinya 3 tahun yang lalu, JekPot Ojek Pontianak kini telah bermetamorfosis tidak saja sekadar ojek motor. JekPot Group kini lebih dinamis untuk memenuhi kebutuhan klien yang semakin dinamis.

Manajemen telah mengembangkan berbagai layanan untuk kebutuhan klien yang semakin berkembang. Beberapa produk turunan JekPot adalah :

  1. JekMob, Ojek Mobil Pontianak adalah divisi mobil yang melayani berbagai kebutuhan untuk keperluan keluarga, wisata, citi tour, pernikahan, wisuda dan lain sebagainyanya. Armada JekMob bervariasi dari mobil MPV, sedan, hatback.
  2. JekUp, Ojek Pick Up Pontianak adalah layanan mobil box, truk engkel dan bak terbuka untuk melayani angkut dan kirim barang dalam jumlah besar. Layanan ini juga cocok untuk pengiriman catering, dekorasi, pindah rumah/ kos dan keperluan lainnya.
  3. JekBus, Ojek Bus Pontianak adalah layanan khusus bus dengan ukuran sedang (medium) dan ukuran besar (bigbus). Semua bus yang tersedia adalah kelas eksekutif dan VIP. Semua bus menggunakan pendingin udara (AC). Layanan ini sangat cocok untuk kebutuhan acara korporasi, perusahaan, komunitas yang memerlukan transportasi jarak menengah dan jauh.

JekMob Ojek MobilJekUp_brosur copy

daftar tarif JekBus

 

Advertisements

Polisi CAKEP Solusi Macet

macet jakartaKonotasi negatif kerap kali mengidentifikasi macet sebagai musibah waktu, biaya, tenaga. Macet mengeliminir produktivitas. Semua yang berkaitan dengan macet menimbulkan kerugian, kegelisahan, keterpurukan. Di sisi lain macet ditinjau dari aspek materi dan ekonomi justru keberkahan. Macet adalah bukti industri otomotif masih berprospek. Daya beli dan daya pakai masyarakat terhadap kendaraan bermotor cenderung naik. Macet membuktikan kuantitas kendaraan bermotor melonjak signifikan yang selaras dengan peningkatan pajak kendaraan bermotor bagi pemerintah. Sisi baik lainnya adalah macet menginisiasi antar-kirim barang tanpa harus dilakukan sendiri. Pendelegasian kurir melalui ojek online yang mewakili pengirim tetap bisa berinteraksi dengan penerimanya tanpa harus bertemu secara tatap muka.

Terlepas dari plus-minus mengenai macet, ada baiknya kita menyikapinya dengan bijaksana. Jika kita berpikir positif, macet yang menurut sebagian orang merugikan, bisa jadi membuat keuntungan. Sebaliknya jika kita selalu memahami macet dengan pandangan negatif, selamanya macet adalah alasan untuk malas berubah, malas kreatif, malas beraktivitas. Yang tanpa disadari sebenarnya banyak sekali hal-hal positif yang bisa mengubah sikap-sikap tersebut menjadi berdaya. Misalnya mengubah kebosanan dengan aktivitas intelektual melalui membaca. Membuang suntuk menjadi sibuk. Sibuk memberdayakan otak melalui imajinasi, merekam ide ataupun membuat catatan ringan mengenai konsep.

Tidak perlu menyalahkan mengapa macet tetap saja terjadi. Macet adalah dampak dari industrialisasi. Macet berbanding lurus dengan ledakan penduduk. Mobilitas penduduk semakin tak terbatas. Macet adalah kejadian sebab-akibat karena jalanan tidak lagi muat menampung beban kendaraan dan pengguna jalan.

Berbagai manajemen macet telah diimplementasikan untuk meminimalisir macet. Seperti rekayasa lalu lintas, buka-tutup arus lalu lintas, pembatasan produksi mobil dan sepeda motor, program transportasi massal menggunakan moda transportasi yang menampung banyak penumpang dengan sekali jalan. Pun demikian tak menjamin macet terselesaikan.

Macet pada dasarnya hanyalah manajemen masalah. Seperti halnya dengan kasus sumbatan pipa air. Pipa tanpa sumbatan, arus air lancar. Sebaliknya jika dalam pipa tersangkut sampah, kurangnya pemeliharaan pipa menyebabkan kerak menumpuk, sumber pipa (kran air) mengalami kerusakan mengakibatkan air tidak bisa mengalir. Sampah dan kerak di dalam pipa serta kran air yang berada di luar pipa adalah masalah sehingga perlu dikontrol dan dijaga kestabilan kebersihannya.

Lantas siapa yang yang paling bertanggung jawab masalah manajemen macet lalu lintas? Polisi. Ya, Polisi lalu lintas, polantas. Polantas masa kini adalah manajer macet. Mereka lah para pakar macet. Mereka penguasa medan, mereka pembuat kebijakan, mereka pemilik resep antimacet. Tetapi apakah hanya dengan mengandalkan resep antimacet yang telah dilakukan seperti rekayasa lalu lintas, buka-tutup arus lalu lintas, lantas macet segera terselesaikan?

Tidak. Cakap dan ahli mengatur lalu lintas tidak lah cukup. Tantangan terberat polantas adalah bagaimana memperkirakan, mengantisipasi dan meniadakan macet. Nilai plus polantas tidak tergantung pada kehadirannya ketika mengatur lalu lintas. Tolok ukur kesuksesan polantas adalah bagaimana memanage macet dengan karakter CAKEP yaitu polisi Cekatan, Aktif, Komunikatif, Empati, Profesional.

Polisi cekatan adalah tangkas dalam segala aktivitas. Tidak perlu menunggu panggilan dan laporan untuk terjun ke lapangan. Ada atau tidak ada instruksi harus memotivasi diri sendiri. Pribadi cekatan cepat menyelesaikan pekerjaan tanpa penundaan. Instruksi hanyalah sekadar formalitas, lebih dari itu tanggung jawab yang menjadikan pribadi cekatan selalu mendekati masalah untuk segera turut menyelesaikan.

Polisi aktif adalah polisi yang selalu berinovasi dalam aksi. Penerapan teknologi dalam aksi dan layanan menjadi bukti. Aktif juga tidak monoton dalam tindakan. Polisi selalu berkreasi menciptakan media-media edukasi berlalu lintas secara unik dan menarik. Polisi komunikatif merupakan polisi yang bisa menjaga keharmonisan (hubungan kerja dan sosial) terhadap atasan, rekan dan masyarakat sekitar. Berusaha menjadi teladan dalam kepribadian. Mengedepankan koordinasi dan kolaborasi daripada bertindak sendiri.

Polisi berempati adalah respek terhadap segala keadaan yang menjadikannya setiap saat ringan terjun ke jalanan. Ada atau tidak ada kemacetan kehadiran polisi di jalanan menjadi pengayom bagi para pengguna jalan. Polisi profesional adalah yang beretos kerja sistematis menurut SOP, disiplin dan jujur. Polisi profesional juga berani menolak gratifikasi, tampil sopan, senyum-sapa-salam, mengubah budaya instruksi menjadi edukasi.

Polisi CAKEP pada prinsipnya merupakan manager lalu lintas yang mampu memadukan cara-cara konvensional dan teknologi dalam mengantisipasi macet. Inovasi dalam tupoksi dibutuhkan karena macet sulit diprediksi. Macet setiap saat bisa terjadi. Manajemen macet adalah pertaruhan tupoksi profesi. Strategi dan penanganan secara elegan menjadi tugas yang harus diprioritaskan.

Pertama, Traffic-Jam Panic Button berbasis lokasi. Tombol kepanikan adalah sebuah aplikasi mobile berbasis Android yang bisa diunduh dan dipasang di smartphone oleh masyarakat secara gratis. Fungsinya sebagai media pelaporan terkini kejadian macet berbasis lokasi. Notifikasi kejadiannya terkoneksi dengan polantas terdekat, sehingga macet bisa terdeteksi secara dini.dont panic

Kedua, aplikasi pemantau lalu lintas secara streaming. Setiap polantas diwajibkan memasang aplikasi ini di smartphone masing-masing untuk bersama-sama memantau secara real time lalu lintas di area terdekatnya. Sifatnya yang real-time, menuntut polantas bertanggung jawab 24 jam terhadap kelancaran lalu lintas di daerahnya. Setiap saat mempunyai kewajiban mengecek kondisi dan melihat arus lalu lintas melalui video streaming di smartphone.

Ketiga, operasionalisasi drone (pesawat kontrol tanpa awak). Pengoperasiannya sebagai pengganti patroli konvensional menyusuri jalan. Kelebihan drone adalah bisa mengawasi lalu lintas darat dari ketinggian dengan pantauan yang lebih luas dengan jarak jangkau yang lebih akurat. Bisa saja drone dikombinasikan dengan patroli mobil sekaligus sebagai pusat pengontrol. Patroli mobil memonitor lalu lintas secara horizontal, patroli melalui drone memonitor secara vertikal. Penggunaan drone juga bisa digunakan untuk memantau pelanggaran lalu lintas oleh pengguna jalan.

Keempat, teladan pemimpin. Pimpinan harus blusukan. Pemimpin harus menjadi contoh – bukan sekadar memberi contoh – di lapangan. Kehadiran di lapangan tidak perlu penjadwalan. Kurangi kekakuan keprotokoleran. Hadirnya pemimpin merupakan pengawasan melekat kepada setiap anggotanya untuk selalu sigap dan tanggap.

Kelima, pertegas penghargaan dan hukuman. Keberhasilan mengatur kemacaten bukan usaha perorangan. Banyak pihak terkait dalam pengaturan. Sebuah kewajaran ketika polantas dinilai berhasil dan menjalankan perannya dengan rapi maka perlu apresiasi. Bentuk konkritnya bisa berupa kenaikan tunjangan atau promosi jabatan. Tetapi ketika gagal harus siap dibully dengan terus memperbaiki diri dan tetap menjaga nama baik profesi.

Akhirnya, kepopuleran dan ketenaran polisi CAKEP tidak terletak pada gaya dan penampilan. Output terpenting yang lahir dari polisi CAKEP adalah integritas. Sadar akan tugasnya yang berat maka bersatupadulah. Sadar akan kehadirannya di jalanan yang dinanti, maka bergerak cepatlah, sadar akan kemacetan yang tidak bisa diselesaikan dengan cara konvensional maka berinovasilah. Inovasi untuk solusi adalah prestasi tertinggi yang layak disematkan kepada polisi. Good bye macet, good job polisi CAKEP.

 

Aksi Rider Belajar Fleksibel

banner1Jalanan adalah tempat usaha kami. Motor roda dua adalah properti kami. Internet adalah teman akrab kami. Ilmu pengetahuan adalah masa depan kami. Kami adalah para rider JekPot, Ojek Pontianak. Rider laki-laki sering dipanggil Jeko sedangkan rider wanita biasa akrab dengan istilah Jengki. Kami adalah bagian dari kota ini sebagai penawar solusi keterbatasan moda transportasi.

Kami semua bergerak mengantar-jemput masyarakat untuk saling terhubung tanpa bingung. Kami menjemput anak-anak sekolah, mengantar para orang tua silaturahmi ke sanak-famili, mendampingi wisatawan untuk city tour atau sekadar temu-bisnis dengan klien, kami membantu mengambil-kirim barang dagangan, tiket, hadiah, kado, bingkisan, paket kiriman, undangan dan belanjaan.

Kami menjunjung tinggi motto sekaligus filosofi layanan : Mengantar dengan Ny(aman). Aman dan Nyaman adalah level tertinggi dari kebahagiaan. Kami ingin menyajikan 2 aspek penting tersebut kepada seluruh masyarakat yang menggunakan jasa kami. Ketika aman masyarakat akan hidup tenang, ketika nyaman masyarakat akan selalu kembali datang menggunakan jasa layanan.

Kami tidak mempunyai pangkalan ojek tetap – yang biasanya dibangun sekadarnya atau bahkan sembarangan di pinggir jalan. Manajemen kami hanya menggunakan rumah tempat tinggal bos kami sebagai tempat peristirahatan bersama. Alasan mengapa kami tidak dibolehkan mangkal adalah pertama, kami akan terlihat seperti orang yang tidak punya pekerjaan karena banyak orang menafsirkan mangkal sama dengan nongkrong yang berkonotasi dengan pengangguran. Kedua, pangkalan hanya akan merusak keindahan kota. Hal ini berbanding terbalik dengan semangat kami sebagai agen perubahan kota dengan paket layanan city tour yaitu mengenalkan sisi kebersihan dan keunikan kota. Ketiga, dengan berkumpul di tempat peristirahatan bersama, kita lebih akrab dengan sesama rider, dengan anggota keluarga bos kami dan tentunya kami dapat makan gratis kapan pun selama kami beristirahat di sana.

Di tempat tempat peristirahan bersama kami juga belajar apa saja. Bahkan beberapa dari kami ada yang aktif menimba ilmu di Unviersitas Terbuka. Mengapa Universitas Terbuka? Ya, karena di perguruan tinggi negeri ini model pembelajarannya sangat fleksibel tanpa mengganggu pekerjaan kami yang selalu berhubungan dengan mobilitas yang tinggi. Kami sadar tidak akan bisa belajar secara formal dengan tatap muka di kelas/ bangku perkuliahan. Tuntutan pekerjaan mengharuskan kami hadir di jalanan.  Separuh hidup kami habiskan untuk lalu lalang di perjalanan.

Universitas Terbuka menyiapkan segala hal yang berhungan dengan kebutuhan belajar kita. Sistem pembelajarannya lengkap dan terintergrasi. Universitas terbuka melayankan perpustakaan online, toko buku online, laboratorium virtual, tutorial online, pengayaan mata kuliah online, ruang baca virtual, jurnal elektronik dan semua layanan online dalam memudahkan kita mengakses pembelaran dari mana pun dan kapan pun.

Secara tidak langsung pembelajaran di Universitas Terbuka memberi kami inspirasi sekaligus insting untuk selalu mandiri. Universitas Terbuka juga berperan membuka cakrawala pengetahuan secara luas. Hasilnya implementasi dari pembelajaran dapat kami praktekkan secara langsung ketika harus berhadapan para tamu yang berasal dari seluruh Indonesia. Beberapa tamu kami dari luar kota yang pernah kami layani antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, Bekasi, Medan, Tangerang, Yogyakarta dan Bali. Dengan berbagai latar profesi mereka datang tak sekadar jalan-jalan tetapi juga mengenal karakter budaya dan keuinkan kota kami. Untuk itulah kami harus selalu meng-upgrade pengetahuan, wawasan dan keterampilan berbicara dengan dengan setiap klien kami.

Ibarat pepatah “sekali dayung satu-dua pulau terlampaui’, perpaduan belajar online dan bekerja online memudahkan kami dalam beraktivitas. Ketika ada tugas perkuliahan yang mengharuskan kami mencari literatur di internet, kami sudah tidak gagap teknologi karena kami sebenarnya sudah dibekali literasi teknologi informasi ketika menjadi anggota rider JekPot. Ketika kami tidak mengetahui lokasi klien kami bisa melacak tempat sekaligus rutenya melalui peta digital yang tersedia di internet. Ketika kami membutuhkan referensi mengenai sisi keunikan tempat wisata di kota ini, kami bisa mencarinya di mesin penelusuran melalui internet.

Secara formal kami harus terus belajar, di sisi nonformal kami harus selalu memupuk passion kami sebagai rider. Kami harus bisa menjadi rider yang berwawasan luas tetapi juga berkarakter khas kota kami yaitu selalu senyum, sapa dan salam. Kami harus bisa menjadi partner yang memberi kemanfaatan bagi keluarga, kolega dan masyarakat kota ini. Kami harus selalu menjaga sikap, menyuguhkan layanan sekaligus membawa diri sebagai rider yang cerdik, terpelajar dan berpendidikan.  Sikap, layanan dan karakter inilah yang kemudian menjadi modal kami untuk menjalankan usaha ini untuk bisa dikenal sebagai layanan ojek profesional dengan nilai plus ridernya yang cerdik, pandai, terpelajar dan berpendidikan.

Kami sepakat hanya dengan pendidikanlah kelak menghantarkan kami menjadi insan cerdas dan bijak secara moral dan pikiran. Kami yakin takdir kami bukanlah selamanya menjadi rider ojek. Proses pembelajaran akan mengantar kami kepada kehidupan yang lebih mapan, tidak sekadar sebagai tukang ojek tetapi manusia Indonesia yang berpengetahuan dan berkompeten dari segi akhlak dan wawasan. Kami optimis hasil dari belajar saat ini – baik cepat atau lambat, langsung atau tidak langsung, mudah ataupun susah – akan segera mengubah status yang lebih tinggi suatu saat nanti daripada kini.

banner2

Dirgahayu Universitas Terbuka.

Kehadiranmu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Akses pembelajaranmu menjangkau yang tak terjangkau.

Inovasi pembelajaranmu mengangkat harkat martabat manusia Indonesia menjadi lebih mulia.

* Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-31. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.

Pontianak Butuh MRT !

Tak dipungkiri Pontianak semakin sumpek, semakin sempit, semakin sesak oleh beragam kendaraan. Panjang dan lebar jalan yang tak kunjung berkembang mengakibatkan tidak tersedianya jalan alternatif. Semua menumpuk di satu jalan dan macet pun tak terhindarkan.

Macet adalah malapetaka bagi semua. Setiap orang menjadi stres. Setiap investor enggan berinvestasi di kota ini. Setiap turis tidak memprioritaskan kunjungan ke kota ini. Tidak ada lagi yang dapat dibanggakan jika kota ini benar-benar macet. Semua menjadi pelik. Semua dirugikan.

Sungguh macet harus segera dituntaskan. Salah satunya dengan pengalihan penggunaan kendaraan pribadi kepada transportasi umum. Masyarakat sudah jenuh dengan ketiadaan transportasi umum yang sebenarnya menjadi hak mereka. Pajak dan retribusi yang mereka bayar perlu imbal balik yang sepadan. Bukan malah menjadi “korban“ kemacetan karena ledakan volume kendaraan yang tak seimbang dengan luas dan panjang jalan.

Mass Rapid Transit (MRT)

Mass Rapid Transit (MRT) adalah moda transportasi secara massal. Intinya sekali berjalan dapat mengangkut banyak penumpang. Moda transportasi seperti ini lebih efektif dan efisien daripada penggunaan kendaraan secara pribadi. Bahan bakar dan waktu pun menjadi lebih irit.

Yang paling realistis untuk diwujudkan di kota ini adalah transportasi darat (bus) daripada air (perahu) atau rel (kereta). Membangun bus lebih murah daripada monorel. Infrastruktur jalan sudah ada. Tinggal melebarkan, memuluskan dan merawatnya. Sebaliknya, pembangunan monorel perlu bertahap karena biaya mahal yang hanya menyedot APBD bertahun-tahun. Belum lagi lokasi yang sempit dan struktur tanah yang tidak mendukung.

buskecil2 buskecil1Mengapa bus? Pontianak memiliki struktur jalan yang lurus dengan jumlah persimpangan jalan yang relatif sedikit. Jadi meminimalisir jumlah trayek bus. Meskipun tidak menutup kemungkinan untuk pengembangan trayek baru jika kemudian hari dibutuhkan.

Faktor pendukung lain adalah tipe area tempat tinggal di Pontianak yang berbentuk blok sehingga memudahkan pemetaan jalur utama mana saja yang perlu dilewati bus.  Mari mencoba memetakan. Sepanjang jalan Adisucipto, Imam Bonjol dan Tanjungpura cukup dengan satu trayek berujung di Alun-alun Kapuas. Kemudian di shelter Alun-alun Kapuas bisa dipecah dengan trayek baru ke arah PAL 5 sampai dengan Kakap dan TPI (Jeruju).

Terminal Sudarso sampai dengan wisma Korpri dan sepanjang jalan A. Yani I dari Polda sampai dengan RS Antonius cukup dengan satu trayek. Jangkauan yang cukup jauh dengan trayek yang sangat sederhana. Begitulah seharusnya konsep transportasi dalam kota. Hemat armada, tidak ribet dan mudah menjangkau kemana saja.

Tidak perlu membangun jalur khusus bus (busway) seperti TransJakarta. Lebar jalan kota ini tidak mungkin untuk melakukan hal itu. Yang perlu dilakukan hanyalah sosialisasi tentang jalur khusus bus, memprioritaskan perjalanan bus di bahu jalan paling kiri dan tidak boleh parkir kendaraan di depan shelter bus.

Perhatian juga difokuskan bagaimana membangun shelter sebagai tempat naik-transit-turun penumpang. Mengingat lahan dan lebar jalan di kota ini sangat sempit. Padahal saat ini mobil angkutan sudah mulai meninggi (baca : truk peti kemas dan truk pengangkut alat berat). Oleh karena itu perlu dibangun shelter yang memudahkan penumpang tanpa menggangu perjalanan kendaraan yang berlalu lalang di jalan.

Pembangunan jembatan penghubung antarshelter adalah langkah terbaik. Jembatan penghubung tidak mengganggu aktivitas kendaraan. Selain juga menambah kenyamanan para penumpang untuk melanjutkan perjalanan dengan trayek lainnya.

Visi Pontianak kota khatulistiwa berwawasan lingkungan sebagai pusat perdagangan dan jasa bertaraf internasional kiranya sangat mendukung untuk segera mewujudkan MRT. Memiliki moda transportasi massal merupakan kebutuhan utama masyarakat modern yang perlu segera dipenuhi.

Jangan sampai visi yang begitu “wah” menjadi bahan cibiran para pelancong ataupun pendatang baru yang mengunjungi kota ini. Bagaimana tidak kecewa ketika pemkot bersemangat menjadikan kota ini sebagai kota jasa dan perdagangan berskala internasional tetapi tidak mampu menyediakan sistem transportasi massal yang mumpuni. Transportasi yang ada hanyalah angkutan kota yang terlihat “kumuh“ dan “tidak berdaya“. Ironis.

Dampak MRT

Proyek ini adalah impian masyarakat Pontianak yang terlalu lama mendamba transportasi menyenangkan. Terlalu lama masyarakat disuguhi jalan rusak, kebut-kebutan pemakai jalan dan seabreg pelanggaran lalu lintas.

Proyek ini juga merubah gaya hidup masyarakat. Jika dahulu lebih senang naik kendaraan pribadi, masa mendatang berubah menjadi naik bus. Siswa tidak akan lagi merepotkan orangtua untuk mengantar ke sekolah. Istri tidak akan lagi merepotkan suami untuk mengantar ke pasar. Para manula pun bisa tetap mandiri melakukan perjalanan dengan rasa aman dan nyaman.

Intinya wajah transportasi kota ini perlu penyegaran. Penulis yakin dengan penyegaran transportasi kota ini semakin energik. Mobilitas masyarakat dalam memanfaatkan transportasi umum akan meningkat. Asalkan semua harus difasilitasi dengan baik. Disediakan dengan murah, mudah, aman dan nyaman.

Tidak rugi mengembangkan proyek ini. Bagi masyarakat proyek ini adalah kemudahan yang dinanti bertahun-tahun untuk memudahkan urusan mereka. Mulai pergi ke pasar, ke sekolah, bekerja sampai kepada wisata keliling kota di hari Sabtu dan Minggu. Bagi pemkot proyek ini mengangkat citra profesional manajemen transportasi yang teratur dan elegan. Dan bagi wisatawan proyek ini memberi cermin keseriusan pemkot untuk mengemas paket transportasi dan pariwisata.

Pembangunan MRT juga menciptakan gaya hidup sehat masyarakat. Mereka membudayakan jalan kaki dari rumah ke shelter. Berjalan dari shelter ke tempat tujuan. Dan sebaliknya. Semua dilakukan hanya dengan berjalan tanpa mengeluarkan polusi. Efeknya kota menjadi lebih hijau dan asri.

Dari sisi lapangan pekerjaan proyek ini banyak menyerap tenaga kerja. Seperti saat pembangunan shelter dan jalur bus, penjaga shelter, sopir, petugas keamanan di dalam bus, penjaga karcis, tenaga kebersihan shelter.

Harus Beda

Jika pemkot konsen tentang proyek ambisius ini sebaiknya harus beda dengan yang sudah ada. Tidak perlu meniru MRT ala Jakarta, Solo atau Jogja. Implementasi boleh terlambat tetapi penampilan tetap harus beda. Hal-hal sepele jadikan lebih oke. Misalnya promosikan pakaian khas melalui seragam seluruh kru MRT mulai dari sopir, penjaga shelter, sampai kepada petugas keamanan di dalam bus.

Hiasi eksterior bus dengan iklan layanan masyarakat atau berbagai kampanye tentang layanan masyarakat. Audiovisual bus juga bisa menampilkan slideshow agenda wisata dan situs menarik di kota ini. Berdayakan petugas keamanan bus sebagai guide yang mampu menjadi pemandu yang ramah bagi penumpang.

Semua strategi ini hanyalah secuil ide untuk menarik lebih banyak penumpang sehingga terlihat beda dengan konsep MRT di kota lain. Akhirnya selain menjadi transportasi pilihan MRT juga berperan sebagai media wisata berjalan. Mari berharap semoga kita semua cepat menikmatinya. Semoga!

Perpanjangan Kontrak Layanan Bulanan JekPot

Manajemen JekPot, Ojek Pontianak mengucapkan terima kasih kepada keluarga bapak Manri Siahaan Azura Residence jalan Panglima Aim Pontianak Timur yang telah mempercayai layanan bulanan/ langganan kami. Terlebih memperpanjang kontrak layanan.

Foto0526JekPot berusaha melayani sepenuh hati untuk memudahkan urusan Anda dan keluarga. Dalam hal ini adalah antar-jemput anak sekolah atas nama James.

Menurut driver JekPot, James adalah tipe anak sekolah yang semangat dan giat. Dia dijemput jam 6.00 pagi setiap hari untuk bersekolah di SMP Gembala Baik, jalan Ayani I Pontianak. Alasannya biar tidak terkena macet dan bisa sarapan dahulu di sekolah sebelum pelajaran dimulai.

Beberapa hari selama seminggu kadang dia juga harus pulang agak sore untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. James adalah tipe anak sekolah periang dan energik. Dia suka sekali dengan beberapa kegiatan yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

Sekali lagi manajemen mengucapkan terima kasih atas perpanjangan kontrak layanan bulanan ini. Semoga layanan JekPot memang benar-benar membantu Anda dalam segala urusan yang berhubungan dengan repot. Semoga.

Jangan Asal Order Ojek

JekPoter mania, kami menyarankan mencari ojek tetap sebagai langgganan. Dengan begitu, antara penumpang dan ojek kenal satu sama lain. Jika tidak berlangganan, jangan sembarangan menyetop pengendara yang mengaku ojek di pinggir jalan. Penumpang harusnya mencari dan sabar mencari pangkalan ojek … Continue reading

Prihatin Nasib Oplet

Malam kemarin salah seorang Jeko (sopir ojek laki-laki) JekPot mengantar pak Anton, Jakarta. Beliau baru pertama kali datang ke Pontianak. Dlam perjalanan tersebut beliau berkeluh kesah tentang transportasi di kota Pontianak.

“Memang benar angkot di kota ini susah ya, pak?”

“Benar, pak. Apalagi kalau malam begini. Berdasar inilah kami JekPot hadir pak. Memfasilitasi para tamu yang memang “buta” kota ini. Kami sendiri sebisa mungkin melayani tamu dengan Ny(aman) tanpa harus direpotkan dengan reservasi penjemputan dan pengantaran. Mudah dan Murah”, cetus sang Jeko.

Image Image Image

Terima kasih kepada bapak Anton yang telah menggunakan jasa JekPot paket personal. Semoga sukses dan lancar selama di kota Pontianak.